Trending News

Sabtu, 27 Juni 2015

Ini Dia Kata Kak Seto Usai Keliling Dilokasi Pembunuhan Engeline

Kak Seto Sewaktu Keliling Dilokasi Pembunuhan Engeline


AGEN ONLINE TERBESAR & TERPERCAYA -Aktivis dan pemerhati anak, Seto Mulyadi mendatangi tempat kejadian perkara pembunuhan Engeline Margriet Megawe (8) di Jalan Sedap Malam No 26, Kesiman, Sanur, Denpasar, Bali, Jumat (26/6/2015).

Kedatangannya untuk melihat serta mencari gambaran mengenai lokasi pembunuhan terhadap bocah kelas dua sekolah dasar (SD) tersebut.

"Ya saya ingin melihat, tentu saja didampingi oleh pihak kepolisian untuk meninjau lokasi tempat tinggal Engeline (sebelumnya disebut Angeline) ini," ujarnya.

Pria yang akrab dipanggil Kak Seto ini mengatakan, ada sejumlah bagian rumah yang dia amati dalam kunjungan tersebut.

Setiap bagian rumah, katanya, memberikan gambaran baginya untuk melihat secara lebih detail mengenai kehidupan anak yang diduga dibunuh oleh mantan pembantu di rumah tersebut.

"Ya melihat sekeliling, bagaimana kamar si pembantu, Margriet, Engeline, dan bagian rumah lainnya," terang Kak Seto.

Kata dia, dari pengamatan sekilasnya tersebut, Kak Seto melihat bahwa memang seorang anak kecil tak seharusnya tinggal di tempat tersebut.

Terlebih, selain tinggal di tempat itu, pria yang dikenal karena acara "Dongeng si Komo" ini, mendengar dari keterangan tersangka dan sejumlah saksi lainnya bahwa Engeline juga harus bekerja memberi makan ayam dan hewan lainnya yang berada di rumah tersebut.

"Ya tentu tidak seharusnya diperlakukan seperti itu. Anak seumuran itu tidak seharusnya bekerja," terangnya.

Ia mengatakan bahwa dirinya saat ini berstatus sebagai saksi ahli yang diundang oleh Mabes Polri untuk kasus pembunuhan dan penelantaran anak terhadap Engeline tersebut.

"Saya diundang Mabes Polri untuk kasus ini. Tentu saja nantinya saya akan kawal kasus ini agar cepat terungkap," jelasnya.

Namun, ia enggan memberikan komentarnya mengenai penilaiannya terhadap kedua tersangka baik itu tersangka kasus pembunuhan Engeline, Agus Tai Hamdamai, maupun tersangka kasus penelantaran, Margriet Christina Megawe.

Ia beralasan bahwa semua hasil pengamatannya sudah diberitahukan kepada penyidik kepolisian.

"Jadi kewenangannya pun saya serahkan kepasa pihak kepolisian," jelasnya.

Sementara itu, selang beberapa menit setelah kunjungan Kak Seto di Jalan Sedap Malam No 26, Tim Inafis kembali mendatangai tempat kejadian perkara.

Kali ini Tim Inafis membawa tas sekolah milik Engeline. Selain tas, Tim Inafis juga membawa sebuah tas plastik warna hitam.

Menurut warga yang tinggal tak jauh dari TKP, tas yang dibawa Tim Inafis itu merupakan tas yang selalu digunakan Engeline ke sekolah.

Sembari berjalan menuju sekolahnya, SDN 12 Sanur, Engeline menggendong tas itu di punggungnya.

Namun, saat pulang sekolah, tas sudah berubah posisi.

Sesuai dengan kebiasaan Engeline yang ia amati, tas tersebut diseret di sepanjang jalan menuju pulang ke rumah.

"Ya diseret kalau pulang, itu hampir terjadi setiap hari. Tetapi saya juga kadang menegurnya, kadang juga saya biarkan, karena sudah menjadi kebiasaannya," terang warga tersebut.

Sementara itu, hingga hari ke-40 atas kematian Engeline, lilin terus menyala di depan rumah di Jalan Sedap  Malam.

Di pekarangan rumah itulah, jasad  bocah berumur delapan tahun yang dikabarkan hilang sejak pertengahan Mei 2015 lalu, ditemukan terkubur pada Rabu, 10 Juni 2015.

Hari kemarin, di tempat tersebut, ada dua titik yang dihiasi lilin.

Titik pertama berada di pintu sebelah selatan, yang dikelilingi karangan bunga.

Titik kedua berada di pinggir jalan, di bawah foto Engeline.

Di tempat itu pun banyak terdapat makanan ringan dan minuman kemasan yang dibawa para pelayat.

Petugas dari Polsek Denpasar Timur, Suparta mengaku ditugasi  menyalakan lilin, dan mengganti jika lilin tersebut sudah mulai habis.

"Disuruh nyalakan lilin setiap hari, di depan dua dan di sini (dekat pintu  halaman) juga dua. Banyak petugas jaga yang nyalakan lilin, kadang saya, kadang petugas lainnya," tambah Suparta.

Jumat pagi kemarin, masih terlihat beberapa warga yang  menyempatkan diri berhenti untuk melakukan berbagi  hal, mulai dari hanya melihat-lihat, hingga ada yang menaruh makanan di bawah foto Engeline yang terpasang di pinggir jalan.

Tak cuma warga sekitar, banyak turis yang sengaja singgah di kediaman Engeline tersebut.

Seorang wisatawan asal Manado, Ceti, sempat menaruh bunga di dekat foto Engeline yang dipampang di depan rumahnya.

"Saya asal Manado. Rombongan datang ke Bali selama lima hari. Ini hari keempat saya di Bali. Wah  berita kematian Engeline sudah diperbincangkan di Manado. Saya merasa kasihan, dibunuh dan dikubur di  pekarangan rumahnya pula. Kasihan anak itu," kata Ceti.

Ceti adalah salah satu anggota rombongan guru dan wali murid SMPN 9 Manado, dan besok sudah akan  kembali ke Manado.

Sementara itu, Ratna, wisatawan asal Malang yang berlibur ke Bali, juga menyempatkan diri untuk  mengunjungi lokasi itu dengan membawakan bunga serta boneka yang ditaruh bersama pemberian orang lain yang sudah menumpuk.

"Kasihan ya, anaknya cantik. Saya lihat di foto kayak bule. Saya saja mau suruh merawat. Saya sayang sekali sama anak-anak. Duh, Tuhan berkehendak lain. Kasihan benar, semoga mendapat  tempat di surga," kata Ratna.

Masyarakat masih berdatangan untuk melihat langsung  perkembangan soal Engeline.

Mereka sekadar  melihat-lihat, memfoto TKP, dan bahkan banyak yang  berfoto untuk kenang-kenangan.

AGEN JUDI ONLINE TERBESAR, TERPERCAYA, TERAMAN
« Sebelumnya
Berikutnya »

Tidak ada komentar

Posting Komentar